Pecel Mbok Jami, Melenggang Hingga ke Eropa

27 August 2013 by in Kuliner Tagged: ,

Pecel merupakan menu masakan sederhana khas Jawa. Dikatakan sederhana karena bahan-bahan untuk membuatnya tergolong sayur-sayuran yang mudah ditemui di pasar tradisional. Lidah orang Jawa pun sangat familiar karena masakan yang satu ini sering dijajakan di berbagai daerah dengan harga yang terjangkau. Salah satu penjual pecel tersohor dari Kota Sragen adalah pecel Mbok Jami.

Belum diketahui secara pasti kapan Mbok Jami mulai berjualan pecel di pasar. “Pecel Mbok Jami sudah dikenal sejak tahun 1970-an dan Mbok Jami sendiri sudah meninggal pada tahun 1980-an silam,” kenang Heni (43), generasi keempat dari keluarga Mbok Jami yang setia meneruskan dagangan pecel sampai sekarang di Pasar Bunder Sragen, Sabtu (24/8/2013).

Sajian khas pecel Mbok Jami di Kios Dalam Pasar Bunder Sragen, Sabtu (24/8/2013). Dengan cita rasa adonan sambal pecel yang terjaga, membuat sambal pecel Mbok jami sering dikirim ke berbagai negara, diantaranya dari Negara-Negara Eropa, Amerika, Arab Saudi, hingga Jepang.

Sajian khas pecel Mbok Jami di Kios Dalam Pasar Bunder Sragen, Sabtu (24/8/2013). Dengan cita rasa adonan sambal pecel yang terjaga, membuat sambal pecel Mbok jami sering dikirim ke berbagai negara, diantaranya dari Negara-Negara Eropa, Amerika, Arab Saudi, hingga Jepang.

Cita rasa adonan sambal pecel yang terjaga sejak dulu, membuat sambal pecel Mbok Jami sering dikirim ke berbagai negara, diantaranya ke Negara-Negara Eropa, Amerika, Arab Saudi, hingga Jepang. Sedangkan untuk dalam negeri, sambal pecel Mbok Jami kering sudah pernah dikirim di berbagai daerah di Indonesia. “Sering jika mengirim paket ke luar negeri, ongkos paketannya malah lebih mahal dari harga sambal pecel kering yang dikirim,” tutur Heni sambil tertawa.

Dengan sajian tak berbeda dengan pecel-pecel lainnya, Pecel Mbok Jami menjelma menjadi masakan yang digemari oleh semua kalangan. Penikmat pecel Mbok Jami mulai dari para buruh pasar hingga para menteri dan pejabat tinggi lainnya pernah mencicipi masakan dengan taburan sambal dari kacang tanah ini.

Dengan nama besar Mbok Jami sebagai pecel yang sudah dikenal oleh masyarakat Sragen berpuluh tahun lamanya, tak ayal jika pecel Mbok Jami menjadi tempat nostalgia bagi penikmatnya yang tersebar di beberapa daerah. “Saya beserta istri selalu menyempatkan membeli pecel Mbok Jami ketika berkunjung di Sragen,” ungkap Mukti (43), warga asli Sragen yang telah lama menetap di Semarang. Menurutnya, ketika membeli pecel Mbok Jami selalu teringat ketika masih kecil sering dibelikan pecel ini oleh ibunya.

Dari Bahan Segar, dengan Proses Manual

Menurut Heni, rahasia cita rasa khas pecel Mbok Jami berasal dari sambal pecelnya. “Saya selalu menggunakan bahan-bahan alami berkualitas dan yang masih segar, seperti pemilihan kacang tanah dan cabainya,” ungkap Heni, yang selalu mempertahankan cita rasa adonan sambal pecel dari para pendahulunya agar tidak mengecewakan para pelanggan setianya.

Sejumlah pengunjung memesan pecel dan sambal tumpang di Kios Mbok Jami, dalam Pasar Bunder Sragen, Sabtu (24/8/2013). Penikmat pecel Mbok Jami mulai dari para buruh pasar hingga para menteri dan pejabat tinggi lainnya pernah mencicipi masakan dengan taburan sambal dari kacang tanah ini.

Sejumlah pengunjung memesan pecel dan sambal tumpang di Kios Mbok Jami, dalam Pasar Bunder Sragen, Sabtu (24/8/2013). Penikmat pecel Mbok Jami mulai dari para buruh pasar hingga para menteri dan pejabat tinggi lainnya pernah mencicipi masakan dengan taburan sambal dari kacang tanah ini.

Untuk membuat sambel pecel, proses yang pertama adalah menumbuk kacang tanah dengan alu tradisional. Setelah itu, adonan kacang dicampur dengan air, gula jawa, cabai, dan beragam bahan dasar lainnya. Terakhir, adonan sambal pecel digoreng tetapi tidak menggunakan minyak goreng. Heni menambahkan, menumbuk kacang tanah masih menggunakan alu secara manual dipercaya dapat mempengaruhi cita rasa, sedangkan menggoreng adonan sambal pecel tidak menggunakan minyak goreng membuat sambal pecel kering dapat bertahan hingga satu bulan lebih walaupun tanpa bahan pengawet.

Setiap harinya, Heni selain menjual pecel juga melengkapi dagangannya dengan masakan sambal tumpang. Harga yang dipatok Heni untuk masakannya berkisar Rp3.000 per bungkusnya dan menggunakan telur menjadi Rp5.000 per bungkusnya, sedangkan khusus sambal pecel kering dijual sekitar Rp36.000 per kilonya. “Dalam sehari penjualan pecel dan sambal tumpang mampu menembus 1000 bungkus nasi,” tutup Heni yang mulai berjualan pecel dan sambal tumpang dari pukul 05.30 pagi.

Editor :  Duratun Nafisah


The author didnt add any Information to his profile yet

Tinggalkan Komentar / Hubungi Tim Terasolo