Solo Leker, Baru 3 Tahun, Sudah Mencapai 120 Gerai

19 February 2013 by in Kuliner Tagged: , , , ,

Pilihan untuk mengembangkan bisnis dengan sistem waralaba ternyata membawa Solo Leker berkembang pesat sejak tiga tahun terakhir. Usaha yang beralamat di Perumahan Griya Kusuma No A26 Gentan, Sukoharjo ini setidaknya sudah membuka 120 gerai kue leker yang tersebar di Kota Solo, Wonogiri, Purwodadi, Semarang, Kediri, hingga Surabaya.

Kue leker merupakan kue setengah lingkaran terbuat dari lapisan tipis berbahan tepung terigu yang dibakar di atas teflon dengan topping di atasnya. Topping-nya pun bermacam-macam dan dapat dikombinasi. Seperti pisang, coklat, keju, dan berbagai macam selai buah.

Hardiyanto Setyadi (38) dan Rita Andriastuti (38)

Hardiyanto Setyadi (38) dan Rita Andriastuti (38) duduk di ruang tamunya di Perumahan Griya Kusuma A 26 Gentan Sukoharjo, Senin (18/2/2013). Hardiyanto dan Rita memulai bisnis waralaba Solo Leker semenjak 3 tahun lalu.

Ide Muncul dari Pengalaman Anak

Usaha kue leker ini dirintis Hardiyanto Setyadi (38) bersama istrinya, Rita Andriastuti (38). Berawal dari kekhawatiran Rita terhadap jajanan sekolah yang dibeli anaknya kurang higienis, ia mencoba membuat kue leker sendiri. “Takut kue leker yang sering dibeli anak di sekolah tidak bersih dan sehat, saya mencoba membuat kue leker sendiri di rumah dan ternyata enak,” papar Rita, Senin (18/2/2013).

Dengan bermodal rasa percaya diri terhadap hasil olahannya dan dorongan keluarga, Rita pun  memberanikan diri untuk membuka gerai Solo Leker yang pertama di depan salah satu mall di Kota Solo. Melihat tren penjualan kue leker yang kian positif, Rita dan suami akhirnya melebarkan sayap usaha Solo Leker ke bisnis waralaba.

Menggunakan Adonan Racikan Khusus untuk Menjaga Kualitas

Hardiyanto menuturkan bahwa rekan bisnis waralabanya akan mendapatkan pasokan adonan bahan dasar leker yang diproduksi dan diracik di rumahnya. “Kami racik sendiri adonannya secara khusus di rumah untuk menjaga kualitas. Adonan yang kami buat menggunakan tepung terigu bermutu tinggi yang dicampur racikan bahan lain sehingga mampu menghasilkan kue leker yang bercitarasa tinggi,” ungkap Hardiyanto, Senin (18/2/2013).

proses pembuatan kue leker

Feri Kushartono (36) memasak kue leker di gerainya Jl MT Haryono, Solo, senin (18/2/2013). Adonan yang berupa tepung dicairkan dengan air, adonan kue leker tersebut lalu dibakar diatas wajan teflon dengan memasukan coklat, keju, pisang, dan berbagai macam selai tergantung permintaan pesanan.

Adonan khas Solo Leker yang didistribusikan kepada rekan bisnis waralabanya, mampu diproduksi sekitar 300 hingga 500 paket tepung per minggunya. Tiap paketnya dapat dibedakan menjadi paket besar  berisi 4 kg adonan yang dapat digunakan untuk membuat kue leker sebanyak 100 buah dan paket kecil berisi 2 kg adonan yang dapat digunakan membuat kue leker sebanyak 50 buah.

Mencantumkan Nomor Telepon di Setiap Gerobak

Sistem marketing Solo Leker dilakukan secara waralaba yang selalu diperkenalkan dengan mencantumkan nomor telepon kantor (0271) 5887078 di setiap gerobak jualan. Selain itu, Hardiyanto juga memanfaatkan website www.sololeker.blogspot.com untuk memperluas jaringan bisnis ke luar kota.

Ditanya soal sistem waralabanya, Hardiyanto menjelaskan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. “Rencana lokasi jualan yang diajukan harus berjauhan dari gerai lain agar persaingan tetap sehat. Juga wajib mengikuti pelatihan dasar pembuatan kue leker,” terangnya. Untuk gerobak dipatok dengan harga 5 juta hingga 10 juta tergantung model gerobak dan peralatan masak. Para pembeli merek juga harus bersedia berlangganan adonan yang dibuat khusus oleh Solo Leker dengan harga Rp35.000 untuk ukuran paket besar dan Rp20.000 untuk  paket kecil.

solo leker

Salah satu gerai waralaba Solo Leker di Jalan MT Haryono Solo (18/2/2013) milik Feri Kushartono (36).Sistem marketing Solo Leker dilakukan secara waralaba yang selalu diperkenalkan dengan mencantumkan nomor telepon kantor (0271) 5887078 di setiap gerobak jualan dan di blog www.sololeker.blogspot.com.

Pengajuan kerja sama usaha waralaba sekitar 1 hingga 2 minggu tergantung lamanya pengerjaan pembuatan gerobak. Rita mengaku dalam seminggu, Solo Leker bisa mendapatkan 2 rekan bisnis yang membeli mereknya. Ditambah dengan penjualan adonan kue lekernya, ia mengaku mendapat omzet hingga Rp20 juta per minggu.

Membuka di Seluruh Indonesia

Untuk menyiasati agar usaha waralabanya selalu berkembang, Rita melakukan langkah-langkah antara lain dengan mengoper gerai yang sudah menurun penjualannya ke penjual lain. “Itu dilakukan untuk mengatasi agar usaha kue leker tidak mati. Selain itu kami juga akan melakukan inovasi dan menambah variasi kue leker,” jelas Rita. Ke depan, ia juga akan melakukan pengembangan dan menambah gerai di luar kota yang dirasa menjanjikan.

Editor : Duratun Nafisah


The author didnt add any Information to his profile yet

2 Responses to “Solo Leker, Baru 3 Tahun, Sudah Mencapai 120 Gerai”


imam
14 April 2013 Reply

saya mau join d wonogiri paling timur bisa ndak,, modalnya berapa

Admin Terasolo
15 April 2013 Reply

Bisa, pak. Modal berkisar antara 5 – 10 juta, sudah termasuk pelatihan pembuatan kue leker dan gerobak jualan.

Tinggalkan Komentar / Hubungi Tim Terasolo