Karak Mbah Sastro, Cikal Bakal Karak di Kampung Bratan

21 March 2013 by in Kuliner Tagged: , , , ,

Salah satu makanan olahan dari beras yang bisa menjadi buah tangan khas Solo adalah karak. Makanan semacam kerupuk itu bisa dengan mudah ditemukan di Kampung Bratan, Laweyan Solo yang dikenal sebagai kampung karak karena banyaknya jumlah produsen karak di sana. Sementara itu, cikal bakal maraknya produsen karak dimulai oleh Mbah Sastro sejak 1946.

Salah satu usaha pembuatan karak yang masih eksis sampai kini adalah industri Karak Sastro yang beralamat di Kampung Bratan RT 01/ RW 06 Pajang Laweyan, Solo. Foto : Septian Ade Mahendra

Salah satu usaha pembuatan karak yang masih eksis sampai kini adalah industri Karak Sastro yang beralamat di Kampung Bratan RT 01/ RW 06 Pajang Laweyan, Solo. Foto : Septian Ade Mahendra

Saat ini, karak Mbah Sastro sudah masuk ke generasi ketiga dan dikelola oleh keturunannya langsung, Ny Rudi Harmawan (40). Ny Rudi menjelaskan awal mula usaha karak dimulai sejak zaman pendudukan Jepang, saat itu beras di daerah Bratan berlimpah dan Mbah Sastro mencoba mengolahnya menjadi penganan berbentuk kerupuk. Tak disangka, karak buatannya itu ternyata diminati orang-orang Jepang dan penduduk pribumi, sehingga Mbah Sastro terus mengembangkan usahanya. “Dulu kakek saya memproduksi karak dan kerupuk Solo, tapi sekarang yang bertahan hanya karak saja,” jelas Ny Rudi saat berbincang dengan Terasolo.com beberapa waktu lalu.

Ny Rudi mengakui jumlah produksi karak saat ini tidak seperti dulu, saat ini dengan jumlah tenaga tiga orang, dirinya maksimal memproduksi karak sebanyak 40 kilogram tiap harinya. “Dulu produksi bisa sampai satu kuintal, sekarang seadanya saja dan tidak mengejar untung, hanya untuk mempertahankan karak agar tidak hilang,” paparnya.

Rudi Harmawan (44) merajang karak di usaha pembuatan karak Mbah Sastro, Kamis (7/3/2013). Pada tahun 1996 terpikir untuk mengemas karak menjadi makanan oleh-oleh khas Kota Solo. Foto : Septian Ade Mahendra

Rudi Harmawan (44) merajang karak di usaha pembuatan karak Mbah Sastro, Kamis (7/3/2013). Pada tahun 1996 terpikir untuk mengemas karak menjadi makanan oleh-oleh khas Kota Solo. Foto : Septian Ade Mahendra

Untuk memproduksi karak renyah dan gurih berukuran sekitar 3×4 cm, Ny Rudi membutuhkan bahan-bahan berupa beras, garam, penyedap rasa dan cetithet. “Jangan salah, semua bahan yang digunakan karak Mbah Sastro itu alami dan telah terdaftar di Dinas Kesehatan, sehingga sudah terjamin keamanannya,” aku Ny Rudi. Selain itu, proses produksinya pun semuanya dilakukan secara manual, termasuk proses pengeringannya yang menggunakan sinar matahari. “Kalau panas, satu hari bisa kering, kalau mendung bisa sampai dua hari,” jelasnya.

Selain sebagai pelopor produsen karak di Bratan, karak Mbah Sastro pun menjadi pioner karak yang menggunakan kemasan. Konsep packaging dengan merek dagang Karak Mbah Sastro itu dimulai sejak 1998, dan bertahan hingga saat ini. Dengan menggunakan kemasan yang menarik itu, Ny Rudi mengaku adanya peningkatan nilai jual. “Biasanya karak dengan kemasan bermerek dijadikan sebagai oleh-oleh dan banyak pengunjung yang sengaja datang kemari,” paparnya.

Sementara untuk pemasarannya, karak Mbah Sastro sudah pernah dibawa ke Batam, Singapura dan Malaysia. Di samping itu, dipasarkan langsung ke Pasar Gedhe, Pasar Kadipolo dan beberapa toko oleh-oleh di Solo. Karak Mbah Sastro dapat ditemui dalam beberapa ukuran, dimulai dengan ukuran terkecil seberat 100 gram dengan harga Rp6.000 hingga terbesar seberat 1 kg dengan harga Rp28.000.

Proses pengeringan karak dilakukan di usaha pembuatan Karak Mbah Sastro, Kamis (7/3/2013). Cuaca yang cukup terik mampu mempersingkat proses penjemuran menjadi setengah hari saja. Foto : Septian Ade Mahendra

Proses pengeringan karak dilakukan di usaha pembuatan Karak Mbah Sastro, Kamis (7/3/2013). Cuaca yang cukup terik mampu mempersingkat proses penjemuran menjadi setengah hari saja. Foto : Septian Ade Mahendra

Bagi yang tertarik untuk mencoba gurihnya karak yang mampu bertahan hingga satu bulan itu, bisa datang langsung ke Kampung Bratan atau memesan melalui telepon atau SMS, dengan proses produksi biasanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 hari atau disesuaikan dengan cuaca di Solo.

Editor : Duratun Nafisah


Lebih dari lima tahun merantau dan hidup di Solo. Senang jalan-jalan menyusuri tiap sudut Ibu Kota Batik dan sering pulang di atas jam 12 malam. Untuk urusan makanan, hanya punya dua definisi: enak dan enak banget.

Tinggalkan Komentar / Hubungi Tim Terasolo